PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK-KAMPUS SINTANG

POSTER ok OK

Iklan
Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

BUKTI DAN TEKNIK PENGUJIAN AUDIT

Oleh : Riandy Syarif

Tujuan dilakukannya audit adalah untuk mengetahui apakah objek audit telah melaksanakan Tugas, Pokok dan Fungsi nya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, sehingga diperoleh informasi apakah penyajian laporan keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan serta telah disusun sesuai dengan standar yang mengaturnya, apakah risiko yang dihadapi organisasi telah diidentifikasi dan diminimalisir, apakah peraturan ekstern serta kebijakan dan prosedur intern telah dipenuhi, apakah kriteria yang memuaskan telah dipenuhi, apakah sumber daya telah digunakan secara efisien dan diperoleh secara ekonomis serta apakah tujuan organisasi telah dicapai secara efektif. Dari tujuan audit inilah dibedakan jenis audit nya, ada audit keuangan, audit kinerja/ operasional, audit ketaatan dan audit investigatif.

Untuk mencapai tujuan audit, maka diperlukan suatu prosedur yang dijadikan acuan atau langkah-langkah audit mengenai apa yang harus dilakukan dalam rangka pelaksanaan audit. Agar diperoleh keyakinan dalam membuat simpulan audit maka perlu didukung dengan bukti yang sesuai dengan syarat bukti audit yaitu Relevan, Kompeten, Cukup dan Material atau biasa disingkat dengan REKOCUMA. Bukti yang relevan adalah bukti yg secara logis mempunyai hubungan dengan permasalahan yang diaudit, sebagai contoh pada audit persediaan dan asset pada Pemerintah Kabupaten Sintang, maka bukti audit yang relevan seperti Kartu persediaan, Kartu Invetaris Barang, daftar mutasi asset dan dokumen Kontrak. Sedangkan bukti yang tidak relevan seperti SPJ bendahara pengeluaran, walaupun dokumen SPJ juga berisi angka-angka. Bukti yang kompeten adalah mengenai cara mendapatkan bukti dan sumber bukti, seperti bukti yang diperoleh dari pihak luar objek audit lebih kompeten disbanding dengan bukti yang diperoleh dari internal obejk audit, atau bukti yang diperoleh berdasarkan observasi auditor lebih kompeten dibanding yang didapat dari pihak lain, dokumen asli lebih kompeten dari pada fotokopian dan lain-lain. Bukti yang cukup berkaitan dengan kuantitas dari nilai keseluruhan bukti, artinya dapat mewakili/ menggambarkan keseluruhan kondisi yang di audit. Sedangkan bukti yang material berarti bukti yang mempunyai nilai yang cukup berarti dan penting serta berpengaruh besar terhadap kondisi yang terjadi, yang harus dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas.

Bukti audit dapat dibedakan menjadi 4 (Empat) jenis, yaitu bukti fisik, bukti dokumen, bukti analisis dan bukti keterangan. Jika dikaitkan dengan teknik audit dikaitka dengan bukti audit yang dilakukan maka diperoleh tabel sebagai berikut :

 

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Auditor | Meninggalkan komentar

PERAN PENYELIDIK DAN PENYIDIK DALAM PENANGANAN PERKARA PIDANA

kpkOleh : Riandy Syarif

Beberapa saat lalu kita disajikan oleh pemberitaan upaya Kepolisian untuk menangkap seorang penyidik senior  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berasal dari Kepolisian, yang tersangkut masalah hukum yang pernah menjerat saat yang bersangkutan masih menjabat Kasat Reskrim di Kepolisian Resor salah satu daerah. Sempat terjadi pengepungan Kantor KPK oleh Kepolisian saat akan menangkap penyidik tersebut, dan pihak KPK berusaha agar si penyidik ditangguhkan proses penyidikannya dikarenakan banyak kasus yang masih ditangani oleh penyidik tersebut dan juga dikarenakan minimnya jumlah penyidik yang dimiliki KPK. Dalam beberapa keterangan pers yang diberikan oleh pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sering terdengar keluhan bahwa saat ini KPK sangat memerlukan tenaga penyidik dalam jumlah yang banyak, kondisi rasio penyidik dengan kasus yang tak seimbang menyebabkan terlontar pernyataan ini. Dampak lainnya adalah terhambatnya pelimpahan kasus yang sedang diselidiki oleh KPK.

Bagi masyarakat awam, istilah penyidik KPK sangat familiar terdengar, padahal dalam proses pemberantasan korupsi khususnya penanganan perkara pidana, tidak semata hanya tenaga penyidik yang terlibat, dimana sebelum penyidik bekerja, ada tahap selidik yang dilaksanakan oleh penyelidik. Oleh karena itu, secara umum tahapan dalam penanganan perkara pidana adalah sebagai berikut :

  1. Tahap Penyelidikan
  2. Tahap Penyidikan
  3. Tahap Penuntutan
  4. Tahap Persidangan
  5. Tahap Pelaksanaan Putusan Hakim

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Auditor | Meninggalkan komentar

ASPEK HUKUM AUDIT INVESTIGATIF PADA SEKTOR PUBLIK

Hasil gambar untuk audit investigatif

Oleh : Riandy Syarif

Dalam keseharian sering kita mendengar istilah investigasi, bahkan acara gosip artis disalah satu stasiun Tv swasta pun menyisipkan kata investigasi dalam acara tersbut yaitu “Insert Investigasi”, yang isinya tentang Gosip para artis yang disajikan lebih mendetil. Selain insert investigasi, adapula acara TV yang dinamakan “Reportase Investigasi” yang mengulas tentang praktek kecurangan di masyarakat, lebih didominasi praktek perdagangan makanan yang menggunakan bahan berbahaya. Kedua cara ini memiliki kesamaan yaitu dari penyajian acara yang berupaya menampilkan sisi pengungkapan informasi yang tersembunyi yang dibuktikan dan dianalisa, Lalu apa arti kata investigasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Investigasi berarti penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta dengan melakukan peninjauan, percobaan dan sebagainya, dengan tujan memperoleh jawaban atas pertanyaan.

Bagi Auditor, baik Auditor BPK, BPKP dan Inspektorat serta Penyelidik KPK, Investigasi merupakan kegiatan yang sering dilaksanakan dalam bentuk Audit Investigasi sebagai upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Menurut Permen PAN Nomor PER/M.PAN/03/2008, pengertian audit investigatif adalah proses mencari, menemukan dan mengumpulkan bukti secara sistematis yang bertujuan mengungkapkan terjadi atau tidaknya suatu perbuatan dan pelakunya guna dilakukan tindakan hukum. Dengan pengertian ini maka Audit Investigasi proses pengungkapan ada atau tidaknya perbuatan melawan hukum, sehingga dalam pembuktian dapat dikualifikasikan apakah perbuatan karena kelasahan administrasi atau ada unsur Tipikor, sehingga dapat dikatakan bahwa aspek hukum terkait Audit Investigasi adalah hukum pidana dan hukum administrasi Negara.

Penugasan Audit Investigasi berawal dari permintaan pimpinan lembaga yang meminta untuk  dilakukan audit, yaitu Kementerian, Lembaga, BUMN, BUMD, Kepolisian, Kejaksaan, KPK atau dapat pula dari perintah pengadilan. Sekalipun secara teori dapat dikatakan bahwa tujuan dari audit investigasi adalah untuk membuktikan ada atau tidaknya kerugian Negara, namun dalam praktiknya hampir dapat dipastikan dalam penugasan audit investigasi sering terungkap dan terbukti adanya kerugian Negara. Hal ini disebabkan adaanya proses penelitian/ penelaahan awal sebelum Surat Tugas Audit Investigasi diterbitkan yang menghasilkan simpulan sementara adanya indikasi kerugian Negara.

Setelah dilakukan audit dan terbukti adanya kerugian Negara, maka pimpinan lembaga yang diaudit dapat menjatuhkan sanksi tergantung kesalahan yang dilakukan, dapat berupa sanksi kepegawaian, Tuntutan ganri rugi dan melaporkan ke Aparat Penegak Hukum, yang selanjutnya dilakukan penyelidikan atau penyidikan. Berikut bagan alur penjelasan Audit Investigasi :

bagan audit investigasi

Dalam Audit Investigatif terdapat rumusan 4 (Empat) jenis perbuatan yang diancam dengan hukum pidana, dimana empat jenis perbuatan ini seringkali bersinggungan dengan Auditor yang melaksanakan penugasan Audit Investigatif, keempat rumusan perbuatan itu antara lain :

  1. Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR)

Salah satu perbuatan yang harus dibuktikan dalam audit investigatif adalah terkait Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), dalam UU Nomor 2o Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bahwa rumusan tindakan yang termasuk kategori perbuatan korupsi telah diklasifikasikan kedalam 7 jenis perbuatan, yaitu

  1. Terkait kerugian Negara
  2. Suap menyuap
  3. Penggelapan dalam jabatan
  4. Pemerasan
  5. Perbuatan curang
  6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
  7. Gratifikasi

Khusus gratifikasi, hati-hati menerima pemberian orang, bahkan minuman pun dilarang, bahkan Inspektorat Kabupaten Sintang telah membuat surat edaran larangan pemberian gratifikasi termasuk makan & minum kepada Auditor/ P2UPD yang melakukan tugas pemeriksaan, dengan tujuan menjaga independensi pemeriksaaan yang dilakukan.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Auditor | Meninggalkan komentar

ZAKAT INSTRUMEN EKONOMI KERAKYATAN

Oleh : Riandy Syarif

Masalah ekonomi merupakan persoalan mendasar dibanding permasalahan lain, karena bagaimanapun juga manusia akan terus bersaing dalam memenuhi kebutuhan dan sumber kehidupan lainnya. Karena itu, ekonomi merupakan salah satu faktor terpenting yang berpengaruh terhadap stabilitas suatu pemerintahan. Salah satu problem ekonomi yang sering dihadapi banyak Negara berkembang adalah masalah kemiskinan, yang menjelma menjadi problematika sosial dan politik suatu Negara.

Sejak 14 abad lalu, zakat merupakan salah satu instrument yang dianggap mampu mengatasi krisis ekonomi masyarakat, karena zakat, infaq dan shodaqoh merupakan ajaran islam yang potensial untuk dikembangkan dalam kerangka pemberdayaan ekonomi islam. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 60 :

”Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir miskin, pengurus (‘amil), para mu’allaf yang dibujuk hatinya untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang di jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Zakat disamping berdimensi ke-Tuhanan juga berdimensi kemasyarakatan untuk delapan golongan orang yang berhak menerima zakat. Akan tetapi, penyaluran zakat memerlukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan manajemen yang lebih mapan untuk mencapai efisiensi dan efektifitas dalam mencapai tujuan dari zakat itu. Dalam pelaksanaannya, zakat memiliki efek domino dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam mengentaskan kemiskinan. Disamping itu, aplikasi zakat dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sosial masyarakat, dimana secara teoritis, alokasi zakat terhadap masyarakat kecil akan meningkatkan pendapatan dan konsumsi mereka.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Economic | Meninggalkan komentar

HNP/Syaraf Terjepit Menjepit Kelalaianku

Hasil gambar untuk hnp syaraf terjepit

Oleh : Riandy Syarif

HNP (Herniated Nucleous Pulposus) atau biasa disebut syaraf terjepit adalah adanya penonjolan inti dari diskus yang menjadi bantalan tulang belakang sehingga penonjolan tersebut menekan saraf sebagai akibatnya timbullah rasa sakit, kesemutan, dan kelemahan pada anggota gerak yang terjepit, bisa punggung, pinggang, lengan atau tungkai. rasa sakitnya luar biasa dan menjalar kemen-mana, sehingga tidak heran banyak yang mengeluh, bahkan konon katanya penyakit ini tidak bisa sembuh dan bersifat kambuhan.

Tahun 2006, saat usia saya 20 tahun, untuk pertama kalinya saya merasakan syaraf terjepit,saya sebut ini HNP Jilid I. Penyebabnya posisi badan yang kurang tepat saat menahan motor yang mau jatuh, kondisi ini terjadi berkali-kali sehingga akhirnya berdampak pada ngilunya pantat sampai betis sebelah kiri. Saya ingat saya itu setiap bangun tidur, saya mesti duduk agak lama baru dilanjutkan dengan berdiri, namun kondisi ini masih tidak menggangu aktifitas keseharian yaitu kuliah dan berorganisasi. Atas saran orang tua, saya menjalani pengobatan urut syaraf di Sintang, percaya-tidak percaya seketika di urut langsung sembuh, tadinya tidak bisa rukuk dengan kaki lurus, tapi setelah di urut jadi bisa. Sembuhnya ini cuma bertahan beberapa hari saja, diakibatkan posisi yang salah saat mengangkat Galon berisi Air, penyakit ini kambuh lagi, dana parahnya walaupun sudah diurut tetap saja sakit. Saya pun memutuskan ganti tukang, urut, tapi bukannya sembuh, malah tambah sakit. Akhirnya saya berkonsultasi dengan dokter spesialis syaraf dan di anjurkan untuk fisioterapi. Tiga bulan saya difisoterapi, belum ada perkembangan yang berarti, tapi saya harus pindah kerja ke Sintang sehingga terpaksa berhenti fisioterapi.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kaca Mata | 1 Komentar

Cinta Datang Terlambat….

Oleh : Riandy Syarif

Adakalanya kita merasa tidak menyukai sesuatu atau seseorang, yang mana kita akan berusaha menghindari sejauh mungkin hal-hal yang kurang kita sukai itu. Bisa jadi rasa kurang suka ini berasal dari kurang minat nya kita terhadap sesuatu seperti disiplin ilmu atau terkait sikap seseorang yang membuat kita menyimpan rasa sakit hati yang berkepanjangan. Seperti saat sekolah, yang menyukai pelajaran matematika mungkin tak sebanyak yang menyukai pelajaran menggambar, bahkan ada meme ungkapan bahwa “Ingin kembali ke masa kecil, dimana masalah terbesar hanyalah PR Matematika”. Ini manusiawi karena kita makhluk yang punya perasaan, lebih dalam dari sebuah logika, bahkan mengalahkan logika. Coba lihat ada seseorang di Bis Kota yang rela berdiri demi memberikan tempat kepada seorang nenek tua, atau seseorang yang rela berkorban donor ginjal demi pasien yang tak dikenalnya. Secara logika itu sangat bodoh, kita membayar tiket bis untuk duduk dan menikmati perjalanan tapi malah diberikan kepada orang lain, atau dengan mendonorkan ginjal akan membuat hidup kita terganggu bahkan menyebabkan kematian. Tapi inilah perasaan, empati dan kepedulian yang akhirnya mengalahkan logika berpikir.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kaca Mata | Meninggalkan komentar