Menghargai Kinerja

Kinerja itu ibarat sebuah pohon, dimana buah yang dihasilkan akan menentukan penilaian orang terhadap pohon tersebut. Walaupun sebuah pohon telah memiliki umur yang tua, batang-batang yang besar dan kokoh, apabila tidak dapat memberikan manfaat untuk orang lain maka akan sia-sia. Perpaduan antara dedaunan yang mengalami proses fotosintesis, akar yang menyerap air dan senyawa dari tanah dan mengokohkan fondasi pohon, serta batang dan ranting yang mengantarkan mineral menuju dedaunan akan menghasilkan buah-buahan yang ranum dan siap dipetik. Begitulah kinerja, yang merupakan hasil nyata dari sebuah pekerjaan yang panjang dan melelahkan, memiliki ciri khas yang berbeda pada setiap orang dan tak mungkin sama. Namun, ketika sebuah kinerja tidak dihargai, ibarat buah yang jatuh busuk ke tanah tanpa pernah disentuh.

Dalam Pemerintahan Daerah pergantian pejabat merupakan hal yang lumrah terjadi, adanya mutasi dan promosi bertujuan untuk menyusun formasi dalam jabatan guna mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah agar lebih efektif guna mendukung kinerja. Mutasi dan promosi merupakan hak preogratif Kepala Daerah dengan mempertimbangkan kondisi Struktur Organisasi dan Tatakelola, Tugas Pokok dan Fungsi SKPD, Pangkat, Masa Kerja maupun latar belakang pendidikan bagi pejabat yang akan di promosi/mutasi. Hal lain yang harus menjadi perhatian khusus oleh Kepala Daerah adalah menyangkut kinerja pejabat yang bersangkutan, dimana kinerja adalah jejak rekam (Track Record) yang menjadi bukti keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam melaksanakan tugasnya.

Setiap jabatan memiliki berbagai fungsi yang berbeda namun saling mendukung, oleh karena itu jika suatu jabatan diisi oleh orang yang tidak kompeten di bidangnya ditambah lagi berkinerja buruk, tentu akan menyebabkan terjadinya disfungsi pada jabatan tersebut. Disfungsi yang terjadi akan sangat berpengaruh pada kinerja pemerintahan secara umum, sehingga perlu adanya kebijakan penempatan orang yang tepat pada jabatan yang tepat sesuai dengan kompetensinya. Bisa dibayangkan jika suatu instansi teknis seperti Rumah Sakit dipimpin oleh orang yang tidak memiliki latar belakang kesehatan tentu tidak sebaik jika dipimpin oleh seseorang yang memiliki latar belakang kesehatan. Untuk meminimalisir kesalahan dalam penempatan jabatan, dalam menentukan formasi jabatan, Kepala Daerah di bantu oleh Tim yang disebut Baperjakat, tim ini dipimpin oleh Sekretaris Daerah yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan kepegawaian, jabatan dan Pangkat terhadap formasi yang akan ditetapkan. Dengan adanya penilaian berbasis kinerja akan mendorong semangat kerja bagi pegawai dan menumbuhkan pola pikir “the right man on the right place”.

 

Pemerintah telah lama mencanangkan konsep anggaran berbasis kinerja, dimana anggaran yang diberikan sesuai dengan target dan realisasi kinerja yang dicapai. Perbedaan perlakuan anggaran sesuai kinerja diharapkan mampu mendorong pejabat dan staf pada suatu instansi/SKPD untuk berlomba-lomba mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan, sehingga menciptakan persaingan sehat yang berkinerja. Hal inilah yang menjadi cikal bakal terbitnya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 yang ditandatangani oleh Presiden B.J Habibie yang merupakan landasan hukum operasional pertama Penerapan Sistem AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) di Indonesia, yang bertujuan  untuk meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, sehingga dipandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi. Penilaian dan pelaporan kinerja pemerintah daerah menjadi salah satu kunci untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif. Upaya ini juga selaras dengan tujuan perbaikan pelayanan public sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, pelaksanaan otonomi daerah perlu mendapatkan dorongan yang lebih besar dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dalam pengembangan akuntabilitas melalui penyusunan dan pelaporan kinerja pemerintah daerah.

 

Namun pada kenyataannya, Laporan Akuntabilitas Kinerja masih dianggap sebagai pemenuhan kewajiban administrasi semata. Belum adanya kekuatan pemberian sanksi kepada pejabat yang tidak memenuhi kewajiban dalam pelaporan kinerja menjadi sebab utama. Padahal berdasarkan alur perencanaan, Rencana Kinerja menjadi acuan terbitnya RKA dan DPA. Jika berkaca pada Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap tahunnya SKPD akan menerima rapor kinerja oleh gubernur, dimana SKPD yang tertinggi dan terendah nilai kinerjanya akan menerima penghargaan. Hal ini menjadi contoh yang positif karena memicu SKPD untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik atau minimal tidak menjadi yang terendah. Jika kinerja selalu dijadikan pertimbangan dalam membuat kebijakan atau menyusun formasi dalam pemerintahan, maka good governance akan lebih mudah dicapai.

 

Itulah kinerja, selalu menarik untuk diperbincangkan, karena diperlukan dimana-mana dan memiliki kekuatan Outcome,benefit dan impact bagi masyarakat. Bahkan seorang anak pun ingin jika kinerja nya dihargai, karyanya di puji.. kerja keras belajarnya di hargai.. oleh orang tua nya. Seringkali terdengar keluhan dari orang-orang bahwa kerja kerasnya tidak dihargai, atau pendapatan yang diterimanya tidak sebanding dengan kerjanya. Jangan jadikan itu penyebab hilangnya semangat bekerja, karena suatu saat kelak Allah akan membayar kerja keras kita dengan yang lain. Tetap berkarya dan tetap berkinerja.

Iklan

Tentang riandysyarif

Saya orang yang simple dengan ide yang simple demi tujuan yang luar biasa
Pos ini dipublikasikan di Auditor. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s