MY ADVENTURE ; Pergulatan Menegakkan Aturan di Batas Sintang

Oleh : Riandy Syarif

Kali ini saya ingin menuliskan pengalaman saya saat bertugas ke lapangan, karena Insya Allah kedepannya saya akan sering bertugas ke wilayah-wilayah pedalaman kabupaten Sintang. Ini merupakan pengalaman pertama saya tugas audit semenjak bertugas di Inspektorat Kab. Sintang, tulisan ini bukannya mau mengulas hasil audit yang dihasilkan, tapi menceritakan pengalaman pribadi saat melalui medan yang tak biasa. Saat tugas diberikan, Sintang sedang musim hujan dan berdampak pada kondisi jalan menuju desa-desa yang mayoritas masih tanah.

Tim Audit Khusus Inspektorat Sintang

Tim Audit Khusus Inspektorat Sintang

Kali ini saya ditugaskan ke Desa Sei Segak dan Desa Temawang Bulai Kecamatan Sepauk, dimana Desa Sei Segak berbatasan dengan tiga Kabupaten yakni Kab. Ketapang-Kab. Sekadau-Kab. Melawi.. lumayan jauh, sampai- sampai untuk menuju dua desa ini kami harus melalui jalan di wilayah Kab. Sekadau dikarenakan kondisi jalan dalam Kabupaten Sintang yang rusak, mungkin seharusnya biaya perjalanan dinas yang kami lakukan dibayar transportasi ke Luar Kabupaten Sintang. hehehe

Alhamdulillah pagi hari keberangkatan cuaca cerah secerah hati saya karena kebutuhan menginap disupport istri tercinta hehehe, eh tapi keberangkatan tim kami yang berjumlah empat orang tertunda satu hari dikarenakan hujan lebat. Perjalanan kali ini saya percayakan si Merah Megapro yang menjadi tunggangan walaupun rekan kantor sempat menawarkan Motor KLX-nya agar digunakan, namun saya tolak dengan halus, hingga akhirnya saya menyesal menolak tawaran itu hehehe. Kenapa menyesal? Medan yg dilalui memang cukup berat bagi pemula seperti saya, ditambah hujan dan situasi yang tidak normal.

Hari keberangkatan semuanya normal, cuaca cerah, jalan yang dilalui pun cukup mudah sekalipun jalan tanah berbatu. Namun mendekati desa Sei Segak, ban depan saya terperosok pada retakan tanah di jalan yang menurun, spontan saya menekan rem depan, namun dikarenakan jalan pasir ban depan saya tidak bisa dikendalikan dan saya pun terjatuh. Jarak saya dengan rekan saya dibelakang sangat dekat, dan tak ayal lagi tanpa sengaja (saya curiga sih sengaja, sorry bro hehehe) rekan saya pun menabrak tubuh saya yang sudah terbaring diaspal, namun Alhamdulillah saya dan rekan saya selamat.

Kami memulai bekerja saat malam tiba di rumah Kepala Desa Sei segak karena di pagi sampai sore hari perangkat desa sedang berladang, menyadap karet dan kegiatan berkebun lainnya, maklumlah di desa-desa mayoritas profesinya sebagai petani. Disaat sedang asyik bekerja hujan lebat pun turun, seperti air yang ditumpahkan dari langit. Selain lebat, hujan ini lama sekali sampai pagi hari hujan ini tak berhenti, masya Allah… padahal kami berencana menginap di rumah salah satu tokoh warga yang tidak terkait dengan tugas kami, karena kami menjaga objektifitas hasil audit. Tapi dikarenakan hujan yang tak reda-reda, dan ditambah dirumah tokoh masyarakat ini ada Calon Legislatif yang sedang kampanye dialogis, maka kami putuskan untuk menginap di rumah Kepala Desa. Akibat hujan yang lebat, sungai kecil dibelakang rumah Kepala Desa pun ikut meluap, bahkan membanjiri halaman depan rumah Kepala Desa, bahkan dipagi harinya sungai kecil yang biasa tenang airnya jadi beringas, berombak. Wow gitu loh….

Rumah kepala desa ini seperti panggung, dibawahnya ada kolong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan barang dan hewan, seperti ayam dan babi. Bagi saya yang Muslim, mungkin kami agak ngeri dengan babi dikarenakan dalam islam Babi termasuk binatang yang dilarang untuk dimakan. Yah, tapi saya harus tetap kuat dan membiasakan diri dengan kondisi ini. Oh iya, di Desa ini tidak ada listrik PLN dan signal HP, dimalam hari listrik menyala dari jam 18.00 WIB s/d 23.00 WIB. Saat bertugas, saya merasakan rindu yang tak tertahankan dengan anak dan istri, mau telpon tapi tidak ada signal. Sedihnya…. Selama di Desa Sei segak ini kami

 

Ruang Mesin PLTMH Desa Sei Segak

Ruang Mesin PLTMH Desa Sei Segak

sempatkan diri untuk melihat PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidrolik), dimana listrik dihasilkan dari air gunung, namun tetap saja PLTMH ini jarang digunakan, letaknya di kereng bukit yang agak sulit dijangkau.

Setelah menyelesaikan tugas di Desa Sei Segak, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Temawang Bulai, kabar buruk kami terima, satu-satunya jembatan penghubung ke Desa tersebut hanyut dibawa arus sungai. Sehingga warga berinisiatif membentangkan batang kayu bulat sebagai jembatan darurat. Waduh saya ngeri rasanya membayangkan harus

Kondisi jembatan darurat

Kondisi jembatan darurat

si Merah siap2 diseberangkan

si Merah siap2 diseberangkan

menyeberangi jembatan batang kayu bulat itu dengan motor. Namun akhirnya dengan membayar warga, motor kami berhasil diseberangkan. Masalah muncul lagi saat tim kami ingin melanjutkan perjalanan, atas saran warga Motor mega pro yang saya bawa akan sulit melewati jalan menuju desa Temawang Bulai, karena jalannya menanjak menaiki bukit, dimana letak desa ini sebelah bukit. Saya pun berinisiatif menitipkan motor di rumah salah satu warga dan melanjutkan perjalanan dengan bergoncengan. Kondisi jalan yang terjal dan hanya seukuran ban motor sedangkan disampingnya parit membuat kami kewalahan melewatinya. Ditambah licin nya jalan dan batu batu yang selalu membuat guncangan hebat di motor, namun tidak sedikitpun menyurutkan semangat kami.

Saat di Desa Temawang bulai ini, kebetulan sedang ada kampanye Caleg dilapangan dan kebetulan pula malam minggu, kondisi warga yang ramai Cukup menghibur kami yang bertugas. Tapi anehnya, bunyi music tidak berhenti hingga jam 5.30 WIB, saat saya sholat subuh pun music berdentang keras. Wah memang disini mayoritas beragama Nasrani, sehingga tidak ada istilah waktu subuh. Desa ini terletak dekat dengan bukit “Saran”, yaitu tempat pesawat berawak delapan orang yang jatuh karena menabrak bukit “saran” ini. Ada satu penumpang yang selamat, yaitu seorang dokter wanita yang bertahan hidup dengan memakan dedaunan. Konon dokter wanita yang selamat ini ditolong oleh sesosok kakek-kakek yang membawa lentera yang terus menunjukkan jalan hingga bertemu dengan desa yang kami singgahi. Menurut cerita,, kondisi dokter wanita ini saat ditemukan penuh dengan Lintah dan kurus. Namun setelah beberapa tahun selamat, wanita ini pun meninggal dunia akibat lintah yang telah menyerang dan bersarang di kemaluannya.

Saat perjalanan pulang, selain harus melewati jembatan darurat tadi, kami pun diguyur hujan, wah jalan licin sekali, mega pro benar-benar tidak berdaya. Saya menyesal sekali menolak tawaran motor KLX teman saya, namun Alhamdulillah Kami mendapatkan ketua tim yang bijaksana dan setia kawan. Ditambah lagi ban motor klx rekan setim yang bocor serta sulit mencari ukuran ban motor klx dibengkel yang kami temui, sehingga akhirnya kami tiba dengan selamat setelah sang surya menghilang diiringi hujan lebat membasahi bumi Kapuas….

IMG_2174

 

Iklan

Tentang riandysyarif

Saya orang yang simple dengan ide yang simple demi tujuan yang luar biasa
Pos ini dipublikasikan di Kaca Mata. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s