AKU MEMILIH AUDITOR

Oleh : Riandy Syarif

Hidup ini sebuah pilihan, dimana Allah akan takdirkan hidup kita dari pilihan dan usaha kita. Sering kali kita menemukan persimpangan jalan yang memaksa kita berpikir lebih keras, menganalisa dan akhirnya memutuskan pilihan hidup kita. Disaat membuat keputusan itulah, kita berdo’a, berikhtiar dan tawakal hingga Allah putuskan yang terbaik untuk kita.

Alhamdulillah saya diterima sebagai CPNS pada tahun 2009 dengan formasi penyuluh Koperasi pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sintang. Saat memasuki tahun ke-3 (Tiga) pekerjaan saya sebagai PNS, saya harus memilih dua macam pilihan dalam karir saya ; apakah tetap menjadi struktural, penyuluh koperasi atau fungsional auditor. Disaat itu, ada sebuah tawaran untuk mengikuti diklat pembentukan fungsional auditor oleh BPKP berkerja sama dengan Inspektorat Kabupaten Sintang. Saya diminta memilih, apakah mengikuti diklat tersebut dengan konsekuensi pindah menjadi fungsional auditor. Namun disaat itu, betapa awamnya saya mengenai jenis dan sifat pekerjaan ini,Sehingga saya memutusakn untuk menelusuri dan mempelajari mengenai apa dan bagaimana menegani Tupoksi pekerjaan ini.

Ada sebuah anggapan bahwa jabatan fungsional itu kalah bergengsi dengan jabatan struktural, sehingga ada keraguan saat harus memilih, ditambah lagi informasi yang didapatkan sangat simpang siur. Saya sempat ragu untuk menjadi auditor, karena pendidikan saya yang pasca sarjana berpeluang untuk menduduki jabatan structural. Selain itu saya juga merasa klop dengan suasana dan rekan kerja di Bidang Koperasi dan UKM, oleh karena itu saya sempat ingin menolak untuk mengikuti diklat tersebut. Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa saat ini status saya tidak jelas. Saya bukan struktural dan bukan pula fungsional melainkan “Calon Penyuluh/ Fungsional”, mengambil istilah Pegawia BKD bahwa jenis saya ini siluman, bukan manusia bukan pula Jin, hehehe. Hal ini dikarenakan formasi yang ada di kementerian PAN & RB adalah Penyuluh Koperasi. Permasalahan yang ada bahwa sampai saat ini belum ada peraturan yang mengatur tentang Penyuluh Koperasi baik di Kementerian Koperasi & UKM maupun di tempat lainnya,, sehingga secara karir dirugikan. Untuk diketahui, fungsional itu kenaikan pangkatnya sesuai dengan keaktifan masing-masing pegawai, tidak sama dengan kenaikan pangkat regular yang berlaku pada struktural. Sedangkan untuk pindah ke struktural maka harus dilakukan perubahan pada formasi di Kemen PAN & RB dan BKN R.I, dimana BKD Kab. Sintang meminta keaktifan dari SKPD tempat saya berkerja yang harus aktif konsultasi ke pusat. haadeeeuuuhhh

Dengan beberapa pertimbangan :

  1. Penyuluh Koperasi itu tidak jelas peraturannya;
  2. Secara waktu saya telah rugi karena tidak dapat mengembangkan karir seperti formasi yg ada;
  3. Sulitnya mengurus kepindahan ke struktural;
  4. Akan diberlakukan UU ASN yang menjadikan struktural menjadi fungsional;
  5. Mencari tambahan ilmu dan pengalaman.

Maka saya memutuskan untuk mengikuti diklat fungsional auditor pada tahun 2012, walaupun dikarenakan lamanya saya mengambil keputusan, Sampai-sampai ada panitia diklat yang datang kekantor untuk konfirmasi keikutsertaan. Pada saat itu propagandanya bahwa ikut diklat tidak pasti pindah ke Inspektorat, benar memang namun tiga hari pertama diklat saya sudah di “Brainwash”, kepingin jadi auditor hahahaha..uhuk-uhuk. Alhamdulillah ujian sertifikasi langsung lulus sekali tes. Informasinya, untuk lulus dalam sekali tes itu sulit loh, tapi dengan belajar yang giat maka itu mungkin dilakukan.

Setahun berlangsung sejak pengumuman ujian tertulis, saya belum juga mendapat surat mutasi tugas ke Inspektorat. Stress rasanya saat rekan atau atasan dikantor lama bertanya kapan pindah, soalnya saya sudah keburu memberi info bahwa saya akan dipindahkan ke Inspektorat. Permasalahnnya masih ada kepala SKPD yang berkeberatan pegawai nya pindah ke Inspektorat dikarenakan masih kekurangan tenaga, hhhmmmm tapi kok dikantor saya tidak ada keberatan ya??? Kayaknya saya sudah tidak diinginkan di kantor lama hahahaha. Akhirnya dengan Do’a dan Sabar, SK kepindahan itu terbit juga, tertanggal 20 Februari 2014, kami yang berjumlah 10 orang resmi pindah ke Inspektorat kab. Sintang.

Kami yang baru pindah memiliki latar belakang yang berbeda, dari pendidikan ada yang latar belakang ekonomi akuntansi, ekonomi manajemen, kehutanan, sosial, teknik lingkungan dan kesehatan. Kami pun berasal dari instansi yang berbeda pula seperti Disperindagkop & UKM, Kehutanan, Rumah Sakit, Kantor Pemdes, Badan Lingkungan Hidup, Disosnakertrans, Dinas Kesehatan dan Dinas P.U. dengan keaneka ragaman ini, maka semakin memperkaya Inspektorat dengan disiplin dan pengalaman kerja yang banyak. Yang jelas, jika dulu kami diaudit, maka sekarang saatnya kami yang mengaudit. Kami sedikit banyak tahu celah-celah yang tak terlihat oleh auditor yang tidak pernah diposisi auditi/ obrik. Hehehe it’s secret…

Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) yang baru dan suasana kantor dan rekan kerja baru membuat saya bersemangat untuk mempelajari lebih lanjut hal-hal yang berhubungan dengan tugas saya. Hal pertama yang saya lakukan selain membaca dokumen Tupoksi dan aturan-aturan fungsional auditor adalah melakukan “PEMETAAN” situasi dan kondisi kantor. Pemetaan yang saya maksud adalah mulai mengenali potensi konflik antar pegawai, orang yang berpengaruh, orang yang harus diwaspadai, kelompok-kelompok korban konflik, budaya tersirat dan lain-lain. Dalam sebuah organisasi, pasti ada pengelompokan akibat perbedaan cara pandang dan konflik yang terjadi, namun ada pula yang netral. Untuk mendapatkan informasi yang valid, kelompok yang netral lebih menjadi acuan, namun dengan tidak mengesampingkan informasi dan kerjasama antar kelompok yang berbeda itu, namun tetap waspada agar tidak terjerumus pada konflik yang mereka selalu pertentangkan.

Selain pemetaan potensi konflik, saya juga mempelajari orang yang berpengaruh, tidak cukup hanya melihat struktur organisasi, karena Pimpinan punya kecenderungan lebih mengakomodir ide/ saran seseorang dengan berbeda tidak tergantung posisi jabatan. Ada yang posisinya rendah, namun dia “otak” dan “motor penggerak” dari aktifitas kantor. Oleh sebab itu, kita perlu pendekatan dan mengambil ilmu dari yang bersangkutan. Dalam mempelajari jenis orang, kita pun harus mendeteksi orang-orang yang perkataannya “tidak bisa dipercaya”, bahkan memiliki sifat khianat. Karena mungkin saja suatu saat rahasia kita, seperti keceplosan bicara dll akan dibocorkannya, waspada!!

Di Inspektorat Sintang, Terdiri dari Auditor yang dibawah pembinaan BPKP dan P2UPD yang merupakan representasi dari Inspektorat Jenderal Kemendagri. Sementara ini jumlah Auditor dan P2UPD sebanyak 44 orang yang disebar di tiga bidang yang masing-masing dipimpin seorang Irban (Inspektur Pembantu). Bidang yang pertama bertugas mengawasi penggunaan anggaran pada Pemerintahan Kecamatan, Kelurahan dan Desa. Bidang yang kedua bertugas mengawasi penggunaan anggaran pada Dinas dan Instansi tingkat Kabupaten sintang, Sekolah-sekolah dan Puskesmas. Sedangkan Bidang yang ketiga menangani laporan warga, melakukan audit khusus dan mengevaluasi kinerja SKPD dan Kecamatan di wilayah Kabupaten Sintang.

Saya bersyukur ditempatkan pada bidang yang ketiga, karena selain profil rekan kerja yang welcome dan tidak pelit ilmu serta kompak, di bidang ini saya langsung menangani urusan yang cukup berat, yaitu investigasi kasus, sehingga menambah pengalamn dan ilmu. Selain itu, saya juga bersyukur di berikan ketua Tim yang pintar dan bijaksana, serta anggota tim yang berpengalaman, sehingga saat ini saya bersyukur atas pilihan saya menjadi auditor. Alhamdulillah

Semoga saya bisa belajar lebih banyak lagi dan menjadi auditor yang berkualitas,aamiin. Bravo Inspektorat Kab. Sintang.

Iklan

Tentang riandysyarif

Saya orang yang simple dengan ide yang simple demi tujuan yang luar biasa
Pos ini dipublikasikan di Kaca Mata. Tandai permalink.

19 Balasan ke AKU MEMILIH AUDITOR

  1. eru berkata:

    salam kenal mas, saya juga auditor di Inspektorat Kutai

  2. Nyoman berkata:

    Sekarang saya juga mempunyai pilihan yg sama apakah Fungsional atau tetap di struktural

  3. Yenny R berkata:

    Dan sy masih calon auditor yg terpaksa hehe…

  4. ardi sanjaya berkata:

    auditor itu profesi, profesi itu melekat di kehidupan

  5. Akang Jumhedi berkata:

    ass, pak riandy bisakah dari struktural pindah ke fungsional , struktural sy hampir delapan tahun

  6. riandysyarif berkata:

    bisa pak, untuk Auditor minimal sudah lulus diklat pembentukan JFA, lalu diusulkan ke pusbin jfa agar dpt angka kredit pertama. baru di ajukan ke BKD

    Kalau utk P2UPD saya kurang paham

  7. ferdi berkata:

    duh sya udah di inspektorat dan menjadi staff perencanaan ingin sekali pindah jadi auditor, tapi apa daya atasan belum mengijinkan….hikkss

  8. do the best berkata:

    tetap semangat mas

  9. almi yunita berkata:

    dari dulu sy pengin jadi auditor, apalagi dengan latar pendidikan akuntansi sy dengan nomor regoster akuntan yang sudah ada.. namun sy tdk pernah ditempatkan diinspektorat dan tdk punya kesempatan jadi auditor pemerintah…beruntunglah anda bos,, salam kenal

  10. ayeyuli berkata:

    Dari guru bisakah nadi auditor?

  11. ayeyuli berkata:

    Dari guru bisakah jadi auditor?

  12. rekocuma berkata:

    bisa, syarat nya mngikuti diklat pmbntukan auditor dan lulus ujian sertifikasi auditor

  13. muzakir berkata:

    saya juga telah menetapkan pilihan sebagai auditor mulai awal thn 2016. sebelumnya saya lama di jabatan struktural.

  14. hambra berkata:

    kalo dari bendahara pengen jadi auditor bisa gak ya?? bagai mana cara mengikuti diklat pembentukan auditor?

  15. Arik Mordiana berkata:

    kisah abang ini hampir sama dengan kisah saya…. salam kenal saya dari Inspektorat Kabupaten Pangandaran..

  16. muchlish tahir berkata:

    mas saya fungsional administrator kesehatan golongan IIIc bisa g ya saya ikut diklat? trus kalau lulus apa ada istilah impassing atau penyesuaian angka kredit utk gol IIIc?

  17. Marwendi berkata:

    Mantap pak Syarif..

  18. indah berkata:

    pak auditor saya nau nanya, apakah yng menjabat sbg fubgsional auditor boleh menjabat bendahara pengeluaran (inspektorat). bendahara jura mrupakan jabatan fungsional. kalau boleh sertakan peraturan yg memperbolehkan atau ygtidak membolehkan. terima kasih

  19. ramlouis92 berkata:

    pak minta contoh soal dong….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s