Setelah tragedi WTC 11 September 2002 lalu, muncul berbagai akibat yang sangat merugikan dunia Islam khususnya sebagai akibat dari respon negara-negara Barat (dalam hal ini Amerika) yang menyikapi tragedi tersebut secara berlebihan, sepihak dan membabi buta. Setelah tragedi WTC, misalnya, pemerintah Amerika menyerukan dan mengajak negara-negara lain untuk memerangi segala bentuk terorisme, termasuk terorisme Islam.
Presiden Bush memang mencoba meyakinkan dunia bahwa perang melawan terorisme (Islam) yang diwakili oleh sosok Osama Bin Laden, bukanlah perang melawan Islam. Namun, sejumlah langkah Amerika rasanya mengaburkan pemilahan tadi: karena, serangan Amerika ke Afganistan, dalam rangka memburu Osama, nampak lebih bertujuan untuk melakukan perubahan rezim yang menguntungkan pihak Amerika sendiri, daripada menangkap Osama, hidup atau mati. Tindakan Amerika menumbangkan rezim Saddam Hussein yang berkuasa di Irak juga lebih terlihat sebagai upaya perubahan rezim untuk menunaikan kepentingan egosentrisme Amerika (dan Israel). Lebih jauh, tudinganya terhadap Indonesia sebagai sarang teroris juga lebih merupakan tekanan terselubung agar negara Muslim terbesar didunia ini mau bergabung dalam keluarga besar ‘perang melawan terorisme’ yang dipimpin Amerika.
Namun, semakin Islam ditekan dan dimusuhi, semakin banyak orang Barat yang justru bersimpati dan ingin mengetahui ajaran Islam, yang akhirnya mereka justru mendapat hidayah memeluk agama Islam. bagitu Pesatnya perkembangan Islam di wilayah barat mengubah wajah barat yang selama ini identik dengan Basis non Muslim berkembang menjadi wilayah Muslim, “Cahaya itu terbit dari wilayah Barat”
Belanda “Kiblat” Islam di Eropa
Hari demi hari, komuitas muslim di Belanda mampu menghadapi beragam tindakan pelecehan dan penodaan terhadap agama Islam dengan dewasa. Boleh jadi kaum muslimin di sana berhak mendapat gelar ”Mujaddid Islam Di Eropa”. Mereka menolak film ”Fitna” dengan cara-cara simpatik dan kerja nyata. Mereka patut menjadi contoh bagi komunitas muslim di Eropa yang lain dalam membela Islam.
Penolakan dengan bukti nyata dan cara yang simpatik dari komunitas muslim di Belanda atas pelecehan itu, menjadikan mayoritas warga Belanda bersimpati terhadap muslim Belanda dan turut membela kesucian agama Islam dan menentang film ”Fitna”.
Ini dibuktikan oleh dua Universitas Di Belanda (Groningen University dan satu Universitas lagi) yang memfasilitasi tempat bagi mahasiswa muslim untuk menunaikan shalat. Managemen dua Universitas ini menegaskan menghormati semua agama. Bahkan dua Universitas ini secara khusus menetapkan waktu bagi mahasiswa muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at, mencontoh yang berjalan di negara-negara Islam.
Muslim Belanda mengadakan beragam kegiatan ke-Islaman, seperti diskusi ilmiyah, dialog terbuka dengan ilmuwan, praktisi media Belanda, menjelaskan kepada mereka bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang berisi ibadah dan hidayah.
Sebagaimana ”Organisasi Pemimpin” di Belanda menyerukan kepada seluruh umat Islam di Belanda untuk tidak berbuat anarkis dan kriminal atas pelecehan yang ada. Karena respon yang anarkis itulah yang diinginkan oleh pelaku fitnah dan pelesehan.
Sebuah tabloit di Belanda menyebutkan bahwa apa yang dikehendaki pembuat film ”Fitna” tidak terjadi, bahkan umat Islam merespon dengan dewasa, sehingga menjadikan warga Belanda menyerbu perpustakaan dan toko di Amsterdam. Warga Belanda membeli mushhaf Al Qur’an elektronik yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda dalam jumlah besar. Bahkan di pasaran stok mushhaf itu habis.
Komunitas Muslim di Belanda menyadari bahwa Belanda adalah ” Negeri Sejuta Muslim”. Di mana jumlah umat Islam di sana terus bertambah dan penganutnya terkenal taat dengan ajaran agamanya secara baik dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.
Di Belanda, Jumlah muslim yang taat beragama sekitar 30% dari total jumlah penganut ajaran agama yang taat lainnya. Padahal statistik resmi mengisyaratkan bahwa jumlah umat Islam hanya 5% saja dari total jumlah penduduk. Menempati urutan keempat setelah Kristen Protestan 23%, Katolik 32% dan kelompok yang tidak menganut ideolagi apapun sebesar 38%.
Pada tahu 1947 warga negara Indonesia dan Suriname yang beragama Islam masuk ke Belanda. Pada akhir tahun enam puluhan dan awal tahun tujuh puluhan banyak pekerja dari Turki dan Maghrib yang masuk ke Belanda.
Komunitas Turki di Belanda paling besar jumlahnya, mencapai 310 ribu penduduk, berikutnya komunitas Maghrib 277 ribu warga, Suriname 60 ribu. Selebihnya dari Irak, Somalia, Pakistan, Mesir, Suria, Ethiopia, Negeria. Mayoritas mereka menganut ahlus sunnah.
Orang Belanda mengatakan bahwa negeri mereka adalah ”Pintu Gerbang Eropa”, karena posisi strategis dan peranan penting yang dimainkan oleh negeri ini. Banyak gereja-gereja yang dijual kepada umat Islam dan berubah fungsi menjadi masjid dan tempat ibadah.
Di awal komunitas muslim bermukim di Belanda, mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan baik, yang menjadikan warga setempat menghormati keyakinan umat Islam. Umat Islam mulai membangun tempat ibadah, diperbolehkan kumandang Adzan dengan pengeras suara meskipun sekali dalam seminggu.
Sebagaimana juga komunitas muslim mendirikan tempat pemotongan hewan sebanyak lima ratus tempat, praktek penyembelihan dengan cara-cara syariah, terutama pada musim kurban.
Sebagimana perusahaan-perusahaan dan tempat-tempat yang memperkerjakan umat Islam memberi kesempatan ibadah shalat, shaum Ramadhan, liburan khusus hari raya, memfasilitasi tempat shalat dan menjaga makanan yang halal.
Shalat Isya’ bagi warga Belanda terbilang cukup sulit, terutama akhir bulan Mei sampai awal Agustus setiap tahunnya. Di mana Belanda merupakan negeri yang terletak di bagian negara-negara yang matahari tidak tenggelam kecuali hanya sebentar saja. Yaitu jeda antara waktu Shalat Isya’ dan shalat subuh kurang dari empat puluh menit saja. Bahkan kadang fajar sudah terbit sebelum tenggelamnya syafaq (batas selesai waktu shalat Isya’). Hampir mustahil menunaikan shalat Isya’ bagi yang tinggal di ujung Utara.
Tambah sulit ketika ibadah shaum Ramadhan musim Panas. Yaitu sulit menunggu shalat Isya’ kemudian shalat tarawih kemudian langsung sahur pada waktu yang sangat singkat. Kadang kurang dari dua puluh menit saja. Berbeda dengan jeda antara shalat Maghrib dan Isya’ bisa berjam-jam.
Di Eropa Al Qur’an Paling Laris
Meskipun genderang perang terhadap kesucian Islam ditabuh secara meluas di negara-negara Eropa, baik secara personal, maupun lembaga, terutama terhadap kesucian Al Qur’an, yang terbaru adalah film “Fitna” di Belanda. Namun penodaan itu tidak berpengaruh terhadap orang-orang di Barat untuk membaca dan menela’ah Al Qur’an. Al Qur’an tetap menjadi buku terlaris di Eropa.
Surat Kabar di Belanda “De Telegraaf” menyatakan bahwa penggunaan mushhaf Al Qur’an Elektronik meningkat tajam, sebagai bukti perhatian mereka terhadap Kitab Suci umat Islam. Mereka juga menolak penodaan terhadap Islam dan umatnya.
Lebih lagi setelah diadakannya kegiatan dialog terbuka bersama para pemikir, pegiat media massa di Belanda. Dialog itu menegaskan bahwa “Al Qur’an adalah Kitab ibadah dan hidayah, sedangkan penyitiran ayat oleh pembuat film “Fitna” keluar dari kaidah yang benar.”
Majalah ini juga menyatakan, bahwa semua masjid-masjid di Belanda terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mengetahui Islam, sekaligus difungsikan sebagai tempat untuk menolak tuduhan yang tidak beralasan itu, dengan cara dialog dan penjelasan yang baik.
Pada waktu yang bersamaan, sebuah LSM Arab Saudi yang bernama “Daarul Bayyinah” mengumumkan dimulainya proyek pembagian Al Qur’an edisi Bahasa Belanda secara gratis, di bawah slogan “Membela Al Qur’an, tidak dengan emosional tapi dengan bukti.”
Di Denmark juga demikian, setelah penodaan berupa karekatur Nabi saw, permintaan Al Qur’an di pasaran naik sacara drastis. Kejadian itu menggugah warga negara di sana untuk mengenal Islam.
Al Qur’an Gratis
ٍMedia Massa harian “Standart” di Belgia membagi-bagikan terjemah Al Qur’an edisi bahasa setempat secara cuma-cuma.
Media ini juga membagikan buku “Islam Sekarang” secara gratis. Isi buku ini adalah pengenalan terhadap Islam, dulu, sekarang dan masa depan Islam. Dijabarkan juga tentang aqidah, ibadah seperti shalat, shaum, haji dan informasi tentang negara-negara Islam dan peristiwa-peristiwa penting Islam lainnya dari zaman ke zaman.
Peristiwa 11 September memiliki peran besar bagi bertambahnya penerimaan orang-orang Eropa dan Amerika terhadap Islam dan Al Qur’an.
Media massa di Amerika mengadakan perjalanan dan kajian di setiap perpustakaan di Washinton, London, dan Paris; menyimpulkan bahwa makin kuatnya penerimaan para pengunjung dan pembaca terhadap buku-buku Islam. Tentang ilmu-ilmu syari’ah dan terutama Al Qur’an. Demikian juga peredaran buku-buku Islam dan Kitab Al Qur’an meluas di banyak negara bagian di Amerika.
Ribuan Warga Jerman Masuk Islam
Penodaan dan penistaan terhadap Islam terjadi juga di Jerman. Penodaan dalam beragam bentuk dan cara, terbaru adalah drama “ayat-ayat setan”. Sebagaimana yang lain, drama ini juga menebar kebencian dan penodaan terhadap Islam.
Namun, pada waktu yang bersamaan justeru banyak warga negara Jerman yang masuk Islam, berbondong-bondong, dari hari ke hari.
Pekan lalu menjadi saksi, seorang Penulis sekaligus Wartawan kelahiran asli Jerman bernama Hendrik Bruder (61 th), yang sebelum-sebelumnya terkenal memojokkan Islam dan umatnya, masuk Islam. Masuk Islamnya dia boleh dibilang mendadak…. Dia berkomentar : “Dengarlah, saya telah memeluk Islam.”
Setelah terjadi pergolakan bantin yang hebat selama bertahun-tahun, karena interaksi dan diskusi intens yang ia lakukan dengan seorang Iman Masjid Ridha di Nicola.
Statemen ia setelah masuk Islam, “Saya tidak meninggalkan agama, saya justeru kembali pada hakekat agama yang benar, yaitu Islam. Karena Islam agama fitrah, semua anak manusia dilahirkan dalam kondisi demikian.” pungkasnya.
Cerita masuknya warga negara Jerman tidak hanya kali ini saja. Pada tahun sebelumnya, ribuan warga asli Jerman kembali pada pangkuan Islam. Pada tahun 2007 saja terhitung seribu orang masuk Islam, demikian diakui oleh Menteri Dalam Negeri Jerman.
Sebuah Pusat LSM Islam menyebutkan dari tiga juta empat ratus (3,4 juta) penduduk muslim di Jerman, lima belas ribu (15 000) di antara penduduk Asli Jerman.
Sebuah survai yang dilakukan oleh berbagai media massa di Jerman memaparkan, bahwa antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan perempuan. Survai tersebut juga menambahkan bahwa jumlah itu naik tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sebuah perguruan tinggi Islam di Jerman menyebutkan bahwa di tahun 2006 warga Jerman yang masuk Islam berjumlah empat ribu orang (4000), dibandingkan tahun 2005, hanya seribu (1000) orang. Salim Abdullah, Direktur Perguruan Tinggi Islam itu menyebutkan, “Delapan belas ribu warga asli Jerman telah masuk Islam.”
Penodaan dan penistaan yang dialamatkan pada Islam dan kaum muslimin yang terjadi di Barat, merupakan rahasia dan pemicu masuknya warga negara Jerman pada agama Islam.
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ali Imran:54.
Tiap Tahun 3600 Warga Prancis Masuk Islam
Kajian yang dilaksanakan Kementrian Dalam Negeri Negara Prancis menyimpulkan, bahwa perkembangan agama Islam di Prancis sangat pesat. Agama Islam menjadi urutan ke dua setelah agama Nashrani.
Lebih lanjut kajian itu menyatakan, bahwa lebih dari 3600 warga Negara Prancis masuk Islam setiap tahunnya. Penganut agama ini paling taat terhadap undang-undang yang ada. Kejahatan yang dilakukan umat muslim sangat minim. Sebagaimana juga umat Islam sangat disiplin terhadap pelaksanaan ajaran Islam, seperti shalat, shaum, dan tidak mengkonsumsi khamer.
Lebih dari 60% umat Islam di Prancis tidak mengkonsumsi khamer selamnya, meskipun hanya sekali dalam hidupnya. 55% dari mereka akan menunaikan ibadah haji tahun depan.
Kajian ini menutup pernyataannya, bahwa mayoritas pemuda muslim di negara yang terkenal dengan menara Eifelnya ini sangat komitmen terhadap agamanya. Faktor inilah yang menjadikan Islam berkembang sangat pesat di Prancis.
Kajian ini sesuai dengan hasil survai yang dirilis oleh Sekolah Tinggi Negeri Program Survai dan Kajian Ekonomi di Prancis tahun 2005, bahwa jumlah anak yang lahir dan diberi nama seperti nama Rasulullah saw. –Muhammad- sebanyak lima puluh tiga ribu tiga ratus tujuh puluh tujuh (53 377) orang.
Sejarah mencatat penamaan Muhammad melonjak tajam selama lima puluh tahun belakangan ini, padahal belum pernah tercatat secara resmi kelahiran orang Prancis sebelum Tahun 1925 dengan nama Muhammad. Pada Tahun 1926 berdiri Masjid Agung Prancis, semenjak itu tertulis secara administrasi formal nama anak pertama yang lahir dan diberi nama Muhammad.
Dalam survai itu juga disebutkan bahwa tersebarnya penamaan Muhammad, juga nama-nama religius atau nama yang ada kaitannya dengan momentum sejarah terhadap anak-anak mereka, sangat erat kaitannya dengan tersebarnya kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilihat dan diikuti oleh minoritas muslim di Barat sejak akhir tahun enam puluhan.
Islam Di Italia
Menteri Dalam Negeri Italia telah mengumumkan pada tanggar 8 April lalu, bahwa jumlah penduduk yang menganut agama Islam sampai sekarang ini berjumlah dua juta orang.
Padahal pada tahun 2001 baru berjumlah satu koma enam juta orang. Dalam rentang waktu tujuh tahun itu pertumbuhan umat Islam di sini mencapai empat ratus ribu orang.
Tabloit “The Guardian” bahwa angka terbaru dari jumlah umat Islam membuktikan secara nyata bahwa Islam sangat berpengaruh di Italia. Islam menjadi agama kedua yang di anut penduduk Italia setelah agama Nashrani. Jumlah umat Islam di Italia mencapai tiga koma tiga persen (3,3%) dari total keseluruhan jumlah penduduk Italia.
Masih menurut tabloid ini, bahwa Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya di negara Italia.
Islamnya Militer Prancis
Survei yang dilakukan sebuah tabloid di Perancis akhir tahun 2006 mengatakan, bahwa jumlah pemeluk baru agama Islam dari warga negara Perancis asli mencapai enam puluh ribu (60 000) orang.
Mereka masuk Islam karena dorongan cinta dan takjub terhadap agama ini, atau karena pergulatan panjang dan kajian mendalam tentang ajaran agama ini. Mayoritas dari mereka pemuda kota yang berpendidikan dan modern.
Survei ini juga menegaskan bahwa warga asli yang masuk Islam berasal dari kelas sosial dan profesi yang beragam. Mereka berasal dari kelompok pemikiran, madzhab dan agama yang berbeda. Ada yang sebelumnya Sekuler, Budha, Katolik dan lainnya. Sebagaimana survei ini menambahkan, bahwa peran menonjol yang dimainkan oleh komunitas muslim dan organisasi dakwah di tengah masyarakat Perancis.
Kelompok dari militer juga banyak yang masuk Islam, lebih dari 3% pemeluk Islam di Perancis adalah seorang tentara.
Sebagaimana daerah “Aisun” sebuah wilayah di Perancis bagian selatan merupakan jumlah terbesar warga yang masuk Islam.
Sekitar seribu atau dua ribu (1000 – 2000) orang di wilayah ini masuk Islam. Mereka masuk Islam lima puluh tahun yang lalu, ketika etnis Maghribi masuk ke Perancis. Antara dua sampai tiga (2-3) orang masuk Islam setiap pekannya.
Dari jumlah penduduk yang masuk Islam itu, kelompok pemuda menempati jumlah teratas, laki-laki mencapai 83%, sedangkan wanitanya hanya 17% saja.
Faktor yang menjadikan warga Perancis masuk Islam adalah, pertemanan, yaitu pertemanan warga muslim dengan non muslim. Umat Islam dikenal sangat toleran, memiliki akhlak yang baik, taat beragama, shalat lima waktu, tidak minum khamer dan tidak melakukan tindak kejahatan pidana.
Radio “Suara Perancis” memainkan peranan yang sangat penting di dalam proses masuknya warga Perancis kepada Islam. Direktur bagian Acara radio ini, Sami Abdus Salam mengatakan, siaran radio ini sasarannya untuk komunitas muslim yang berada di masyarakat Perancis, berupa nasehat, arahan, dsikusi, dialog seputar permasalahan sosial dan keagamaan, selama delapan belas (18) jam secara live.
Dari hasil siaran itu, banyak dari kalangan pemuda muslim, sekitar 99% tidak mau makan daging babi. Selain itu, bertambahnya orang yang masuk Islam setiap hari dari warga asli Perancis, karena mereka melihat keadilan Islam yang disiarkan melalui radio.
Jumlah populasi umat Islam di Perancis lebih dari enam (6) juta orang, 10% dari total jumlah penduduk Perancis. Mereka mempunyai jumlah suara dalam pemilu sebesar satu koma delapan juta (1,8 Juta) suara. Mereka berasal dari lima puluh tiga (53) negara yang berbeda, dan dua puluh satu (21) bahasa yang berbeda. Keturunan Al Jazair termasuk yang paling dominan.
Sebuah kajian memprediksikan bahwa jumlah umat Islam akan semakin bertambah tiga kali lipat sampai tahun 2020, sekitar dua puluh (20) juta warga muslim, disebabkan populasi mereka yang cepat dan besar, banyak pendatang muslim dan juga banyak warga asli yang masuk Islam.
Karena itu kita melihat –masih kata survei itu-, kaum muslimin di sana akan sangat berperan signifikan, tidak bisa diremehkan dan tidak mungkin diabaikan, lebih khusus mereka mewakili 17% dari pekerja di militer Perancis.
Dan semuanya Insya Allah akan terus bertambah, membungkam kekafiran.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
2. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong
3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat
(QS : An-Nashr)
Posted by sisi on 28 Mei 2009 at 08:33
Subhanaullah.. kalo Allah udah berkehendak ngga ada yang bisa melawan..
sesungguhna kemenangan Islam telah dekat.. Allahhuakbar!!!
Posted by bapak apik on 4 Agustus 2009 at 12:17
ALLAHUAKBAR ……